Frans Seda Memorial Lecture Perdana:
Frans Seda's Legacy in the 21th Century - The Need for Value -Based Leadership for a World in Transition
Sebuah peristiwa bersejarah terjadi pada 21 Maret 2014 di Universitas Tilburg, Belanda. Peristiwa bersejarah ini menjadi begitu penting bagi Frans Seda Foundation.
Pada hari itulah “Frans Seda Memorial Lecture” perdana diselenggarakan oleh Frans Seda Foundation. Momen bersejarah ini semakin luar biasa karena diselenggarakan di kampus tempat mendiang Frans Seda dahulu menuntut ilmu sebagai seorang penerima beasiswa dari Indonesia.
Tampil sebagai narasumber dalam kuliah perdana program “Frans Seda Memorial Lecture” adalah Mr. Jos van Gennip –lengkapnya, Judocus Johannes Anthonius Marcus van Gennip–seorang politisi senior Belanda yang pernah menjadi anggota Senat Belanda selama 16 tahun berturut-turut dari unsur Christen-Democratisch Appèl (CDA).

Pengenalan Mr. Jos van Gennip yang kental terhadap sosok Frans Seda membuatnya sangat tepat membawakan materi berjudul “Frans Seda's Legacy in the 21th Century - The Need for Value-Based Leadership for a World in Transition” pada “Frans Seda Memorial Lecture” perdana.
Dalam orasinya, Mr. Jos van Gennip menyoroti bagaimana alm. Frans Seda, seorang anak muda yang lahir di pedalaman Indonesia yang ketika itu belum merdeka, berhasil tumbuh dalam proses turbulensi yang tidak mudah, hingga kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berinteraksi di Eropa.
Segala sesuatu yang dilalui Frans Seda itu, dalam kacamata Mr. van Gennip membentuk karakter kepemimpinan dengan nilai-nilai unggul seorang Frans Seda di kemudian hari. Paduan karakter kepemimpinan dengan nilai-nilai unggul itulah yang di masa-masa berikutnya menyokong Frans Seda dalam kapasitasnya mengabdi negara dan bangsanya, Indonesia, baik dalam kapasitas sebagai menteri dalam periode yang tidak mudah, sebagai tokoh politik, sebagai tokoh awam Gereja Katolik, sebagai duta besar, dan di dalam berbagai peran pentingnya hingga akhir hayatnya. Sebagai hasilnya, Frans Seda kemudian dikenal sebagai tokoh yang kerap membangun jembatan di antara perbedaan yang ada. Bahkan, Mr. van Gennip sempat menyebut Frans Seda sebagai “Cobbenhagen-nya Indonesia”.
Mr. van Gennip juga menyoroti bahwa Frans Seda dalam jejak karyanya tak melewatkan fokus karya dalam bidang pendidikan, baik secara langsung, maupun tidak secara langsung. Menurut pandangannya, Frans Seda sepertinya menyadari bahwa pendidikan adalah satu-satunya investasi bagi pemikiran umat manusia yang tidak dapat diambil alih atau dicuri.
“Kepemimpinan yang terutama sekali adalah rasa tanggung jawab, pelayanan terhadap kebaikan bersama bagi bangsa, kejujuran, dan bela rasa…”, demikian ungkap Mr. van Gennip dalam paparannya. Itulah warisan yang begitu kuat dari seorang Frans Seda, kepemimpinan yang yang diwarnai rasa tanggung jawab, kesediaan untuk mengabdi pada kebaikan bersama bagi bangsa, kejujuran, bela rasa, keberpihakan pada mereka yang lemah, peduli pada martabat pribadi manusia, mengedepankan kesejahteraan umum, solidaritas, subsidiaritas, dan kehadiran untuk menjadi jembatan di antara perbedaan-perbedaan. Warisan model kepemimpinan inilah yang diperlukan di abad 21 dan sungguh penting untuk disemaikan kepada generasi muda.